Sejarah Minahasa


Diwilayah yang menggunakan sistem pemerintahan demokrasi kemudian berkembang menjadi tiga wilayah otonom yang disebut Tountemboan berpusat di Toumpaso, Tounsea berpusat di Niaranan, Toumbulu berpusat di .

Kemudian sekitar abad 13 Masehi sekitar tahun 1200an dijawa muncul kerajaan Singosari dibawah pemerintahan Kertanegara kerajaan ini menjadi berkuasa diseluruh pulau Jawa sehingga menguasai perdagangan. Dimasa yang sama di Cina Kaisar Kubilai Khan sedangkan memperluas pengaruhnya ke segala penjuru, mereka menarik upeti bagi kerajaan-kerajaan didaerah perdagangan internasional. Utusan Kubilai Khan dibunuh oleh raja Kertanegara, hal ini menimbulkan amarah kaisar maka dikirimlah pasukan armada untuk menghukum Singosari. Kerajaan Singosari hancur dan pasukan Kubilai Khan kembali melewati selat Sulawesi. Diwilayah Singosari Raden Wijaya membangun kerajaan berpusat di Majapahit. Dimasa pemerintahan Raja Hayam Wuruk ia mengangkat Panglima Perang Gajah Mada menjadi Mahapatih yang kemudian melaksanakan ekspansi Sumpah Palapa. Sekitar tahun 1365 armada Majapahit menyerang kerajaan kerajaan di kepulauan utara Sulawesi diantaranya Mindanao dan menjadikan kerajaan Makatara sebagai sekutunya.
Pasukan maritim kerajaan menghindar dari kekuasaan Majapahit mereka masuk kesebelah utara Sulawesi di tanjung Pulisan. Kemudian terus masuk lebih kedalam lagi tapi tidak mendapat persetujuan republik perserikatan setempat. Kemudian atas ijin Pemimpin Besar Tounsea maka mereka dapat mendiami perairan muara danau, itu sebabnya kelompok ini disebut Toundanou/ TouLour. Mereka bermukim membangun rumah perkampungan diatas air. Dikemudian hari akhirnya suku ini mendapat pengakuan dari ketiga negara serikat sehingga masuk sebagai anggota perserikatan yang disebut Minaesa.


Sekitar tahun 1375 dari Tombulu sekitar gunung Lokon turun satu pasukan dipimpin seorang pahlawan yang bergelar Lokonwanua, ia membangun armada laut bermarkas di pulau Manadotua. Pemerintahannya kemudian meluas pengaruhnya ke Siau Sangihe, Bolaang Mongondow, Tomini/Gorontalo. Saat itu di BolaangMongondow memerintah seorang raja keturunan Mokoduludug bernama Raja Damopolii dengan pusat pemerintahannya di Kotamobagu.


Baca selengkapnya dalam buku sejarah Minahasa dan Sulawesi Utara oleh DDS.Lumoindong

Figur Pemimpin Sulawesi Utara sebaiknya ?

Aksara Malesung


Malesung adalah aksara tradisional masyarakat Minahasa Kuno yang telah tidak ada yang menggunakannya lagi. Bentuk aksara malesung atau Aksara Watugirot menurut budayawan Paulus Lumoindong (alm) berasal dari serumpun dengan aksara pilipina. Huruf Malesung ini pada hanya dipakai untuk menulis keputusan penting pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada batu watu menggunakan besi atau pahat batu/besi. Lihat Buku Aksara Malesung oleh David DS Lumoindong. Aksara Malesung kini hanya tersisa pada beberapa peninggalan Prasasti diantaranya prasasti Pinawetengan.

(Aksara Malesung) kini hanya tersisa pada beberapa peninggalan Prasasti diantaranya prasasti Pinawetengan.

Prasasti Pinawetengan ditemukan tahun 1888.. di desa Pinawetengan (Tompaso), Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Penanggalan masih diperkirakan antara abad 4 hingga abad 7 menurut Riedel tahun 670 Masehi, berdasarkan perhitungan silsilah. Prasasti ini menggunakan bahasa Minahasa Kuno meskipun huruf-huruf yang digunakan hiroglif belum ada yang mengetahui secara jelas, hanya syair kuno dan penjelasan turun temurun yang dipegang dipercaya sebagai Prasasti Musyawarah Leluhur untuk Pengaturan sistem pemerintahan dan Pembagian wilayah.

Prasasti ini berbeda dengan prasasti lainnya di nusantara (Indonesia) yang menggunakan huruf kawi yang masih terpelihara bukti-buktinya, sehingga mudah dipelajari. Hurufnya sangat berbeda apabila dibandingkan dengan prasasrti dari Jawa semasanya. Huruf ini sudah tidak dikenal. Huruf-huruf pada Pinawetengan ditatah pada batu langsung, seperti di Jawa ditulis tetapi bukan huruf palawa, kawi dan sebagainya, kemungkinan besar huruf ini lebih tua dari huruf kawi, pallawa dan lainnya karena masih berbentuk gambar (hieroglif) sama dengan huruf mesir kuno. Hieroglif adalah sistem tulisan formal yang digunakan masyarakat Mesir kuno yang terdiri dari kombinasi elemen logograf dan alfabet. Melihat jenis huruf maka diperkirakan digunakan sebelum Masehi dan kemungkinan hilang atau mulai jarang digunakan sekitar abad 9. Prasasti Pinawetengan bisa saja lebih tua dari Prasasti Mulawarman dan Purnawarman (Saekitar Abad 2 Masehi - Abad 5 Masehi). Ini peninggalan leluhur yang seharusnya menjadi kebanggaan bagi indonesia dan menjadi tantangan bagi para pakar arkeologi dunia, hanya saya anggaran pemerintah pusat belum secara khusus diarahkan untuk menjadi pusat riset Indonesia. Ini Aksara dan Prasasti Republik Tertua didunia, deklarasi negara Demokrasi tertua di Asia mungkin juga didunia demikian kata David DS Lumoindong dalam bukunya Indonesia Negara Republik yang memiliki prasasti deklarasi republik tertua didunia. Sehingga akhirnya dunia belajar demokrasi ke Indonesia. Pinawetengan adalah merupakan aset dunia yang seharusnya dilindungi PBB.

Isi prasasti ini mengenai pernyataan Perdamaian, Deklarasi Penggunaan Sistem Demokrasi dalam Pemerintahan negara Republik Kuno, Pembagian Wilayah, Kebebasan Hak Asasi, Otonomi dan Hak Merdeka Berdiri Sendiri.


== Prasasti Pinawetengan ==

Ceritera rakyat mengenai adanya batu Pinawetengan di temukan penulis J.G.F Riedel dari cerita rakyat tombulu yang di cetak dalam bentuk buku berjudul "AASAREN TUAH PUHUHNA NE MAHASA" terbit di tahun 1870 dalam bahasa Tombulu. Lokasi tempat batu Pinawetengan pada mulanya hanya disebut tempat berkumpulnya penduduk Minahasa yang terletak di tengah-tengah Tanah Minahasa. Kemudian disebut tempat Pahawetengan Posan, pembahagian tatacara beribadat agama suku. Lokasinya disebuah tempat yang bernama bukit AWOHAN (AWOAN) di Tompaso. Istilah Watu Pinawetengan pada waktu itu belum ada, karena batu suci tempat upacara PAHAWETENGAN POSAN belum ditemukan karena sudah tertimbun dan masuk ke dalam tanah. Kemudian di tahun 1888 pada bulan Juni J.Alb.T. Schwarz seorang pendeta di Sonder membiayai penggalian batu Suci orang Minahasa tersebut, dan bulan Juli 1888 batu itu di temukan lalu lahirlah istilah "Watu Pinawetengan". Usia gambar-gambar di batu Pinawetengan di analisa penulis J.G.F Riedel berasal dari abad ke-7 (tujuh).

II. Analisa Arti Gambar Oleh J.Alb.T Schwarz.

Orang pertama yang menganalisa garis gambar di permukaan batu Pinawetengan adalah Pendeta J.Alb.T Schwarz, berdasarkan komentar Hukum Tua Kanonang Joel Lumentah. Keterangan Hukum Tua Kanonang dan seorang guru dari Sonder hanya mengenai bentuk segi-tiga adalah bentuk atap rumah pemimpin utama Minahasa yang memimpin upacara adat di batu Pinawetengan. Keterangan penting lainnya adalah gambar-gambar yang ada di tahun 1888 dan sekarang ini sudah hilang. Seperti gambar kelelawar, ikan hiu, buaya, jaring penangkap ikan. Hanya sampai disini uraian penulis J.Alb. Schwarz dalam bukunya "ETHNOGRAPHICA VIT DE MINAHASSA". Arti gambar manusia tidak dapat di analisa oleh Penulis J.Alb.T Schwarz.

III. Analisa Arti Gambar Oleh Jessy Wenas.

Menurut Jessy penelitian arti gambar batu Pinawetengan dengan melengkapi data cerita rakyat Tontemboan buku tulisan J.Alb.T.Schwarz "Tontembeansche Taksten" terbitan tahun 1907. bahwa pemimpin upacara adat di pinawetengan Maha dewa Muntu-Untu tidak hanya satu orang tapi ada beberapa orang dalam kurun waktu 800 Tahun. Kemudian membandingkan gambar manusia di Pinawetengan yang punya kesamaan dengan gambar manusia di gua Angano Filipina yang berusia 3000 tahun yang lalu, memberi data bahwa pembuatan gambar di batu Pinawetengan bukan hanya mulai dari abad ke-7 tetapi sudah di mulai sejak jaman sebelum Masehi. Untuk lebih mendalami penelitian simbol-simbol perbandingan gambar-gambar binatang dan benda lainnya dari sistim zodiak Minahasa dari buku " De alfoersche Dierenriem " tulisan pendeta berkebangsaan Belanda Jan Ten Hove cetakan Tahun 1887. Karena uraian simbol-simbol gambar zodiak buku JAN TEN HOVE tahun 1887 sangat jelas mengenai penggunaan simbolisasi itu. Maka bahan keterangan data itu digunakan penulis untuk menguraikan lebih jauh arti- arti gambar yang bukan gambar manusia di permukaan batu Pinawetengan.

Sebenarnya Watu Pinawetengan sempat terkubur dan hilang selama berabad-abad. Penggalian situs bersejarah itu dilakukan pada bulan Juni tahun 1888 hasil penelusuran JAT Schwarz dan JGF Riedel dari sastra lisan dan tuturan yang tersisa di masyarakat Minahasa. Mereka adalah putra Pendeta JG Schwarz dan Pendeta JF Riedel yang menjadi misionaris di Minahasa. Nederlandsche Zendeling Genootschap mengirimkan dua penginjil, Johann Gottlieb Schwarz dan Johann Frederik Riedel yang masing-ditempatkan di Langowan dan Tondano.

Penelusuran Riedel dan Schwarz sampai ke wilayah Sonder, Minahasa. Watu Pinawetengan berada di sebuah bukit di kawasan Gunung Tonderukan. Dari catatan Riedel dan Schwarz pada tahun 1862 dan bukti-bukti sejarah lisan leluhur Minahasa, Watu Pinawetengan berasal dari era abad VII Masehi. Hanya saja, upaya penggalian baru diadakan pada tahun 1888.

Menurut Santoso Sugondo tenaga ahli arkeologi mengenai Watu Pinawetengan, bahwa batu tersebut ,


Watu Pinawetengan
Jenis megalit lain yang menarik, yang terdapat di Minahasa ialah batu bergores yang ditemukan di Kecamatan Tompaso. Oleh penduduk setempat batu bergores ini disebut sebagai watu pinawetengan. Batu ini merupakan bongkahan batu besar alamiah, sehingga bentuknya tidak beraturan. Pada bongkahan batu tersebut terdapat goresan-goresan berbagai motif yang dibuat oleh tangan manusia. Goresan-goresan itu ada yang membentuk gambar manusia, menyerupai kemaluan laki-laki, menggambarkan kemaluan perempuan, dan motif garis-garis serta motif yang tidak jelas maksudnya. Para ahli menduga bahwa goresan-goresan tersebut merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan komunitas pendukung budaya megalit, yaitu kepercayaan kepada roh leluhur (nenek moyang) yang dianggap memiliki kekuatan gaib sehingga mampu mengatur dan menentukan kehidupan manusia di dunia. Oleh sebab itu, manusia harus melakukan upacara-upacara pemujaan tertentu untuk memperoleh keselamatan atau memperoleh apa yang diharapkan (seperti: keberhasilan panen, menolak marabahaya atau mengusir penyakit) dengan menggunakan batu-batu besar sebagai sarana pemujaan mereka.

Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan tempat tempat bermusyawarahnya para pemimpin dan pemuka masyarakat Minahasa asli keturunan Toar & Lumimuut (nenek moyang masyarakat Minahasa) pada masa lalu, dalam rangka membagi daerah menjadi enam kelompok etnis suku-suku bangsa yang tergolong ke dalam kelompok-kelompok etnis Minahasa. Sampai saat ini batu bergores yang sudah ditemukan di Minahasa, baru watu pinawetengan, terdapat di wilayah kerja Kawangkoan namun dapat dianggap sebagai temuan yang cukup penting dan dapat dimasukkan sebagai monumen sejarah, khususnya sejarah kebudayaan masyarakat Minahasa



Lagu Minahasa

Setiap bagian diakhiri dengan "Opo Wana Natas.
Di bawah teks dan terjemahan
Opo wana natas


Opo Wana Natas


Tembone se mengale ngale
Tembone se mengale ngale
Pakatuan pakalawiren

Kuramo kalalei u langit
Tentumo kalalei un tana
Kuramo kalaei un tana
Tentumo kalalei ta in tou

Nikita in tou karia
Eni mapa susuat uman
Eni mapa susuat uman karia
Wia si Opo wana natas

Si Opo wana natas
Sia si matau ampeleng
Sia si matau ampeleng
Mamuali wia mbawoin tana


Bahasa Indonesia :

Tuhan di surga
Lihat kami di sini di bumi
Lihat kami di sini di bumi
Diberkati dengan hidup bahagia n panjang

Jadilah kehendak-Mu di surga
Juga dilakukan di bumi
Jadilah kehendak-Mu di bumi
Juga terjadi pada manusia

Kami manusia ZiiN teman saya
Mirip Orang
Serupa orang teman saya
Untuk Tuhan di surga

Oh Tuhan di surga
Oh Engkau bahwa tidak ada yang lolos
Oh Engkau bahwa tidak ada yang lolos
Apa yang terjadi di bumi ini



(Dalam Bahasa Belanda)

God in de hemel
Zie ons hier op aarde
Zie ons hier op aarde
Gezegend met ‘n lang gelukkig leven

Uw wil geschied in de hemel
Ook geschied het op aarde
Uwe wil geschied op aarde
Ook geschied het in de mens

Wij ziin mensen mijn vriend
Gelijkwaardige mensen
Gelijkwaardige mensen mijn vriend
Voor God in de hemel

O God in de hemel
Och Gij die niets ontgaat
Och Gij die niets ontgaat
Van wat er gebeurd op deze aard


Anggota Minahasa

Pendaftaran Menjadi Anggota Minahasa International Network


Silahkan isi data anda secara lengkap untuk menjadi anggota Organisasi Tou Minahasa. Dengan menjadi anggota anda juga bisa berpartisipasi sebagai penulis di website ini.

Nama Anda
Email anda
No Telepon
Tulis Pesan Anda
Image Verification
Please enter the text from the image
[ Refresh Image ] [ What's This? ]


Share this post!

*
*
*
* Technorati
* Google
* Tweet this
* Tweet this
* Tweet this

Anggota Minahasa

Pendaftaran Menjadi Anggota Minahasa International Network


Silahkan isi data anda secara lengkap untuk menjadi anggota Organisasi Tou Minahasa. Dengan menjadi anggota anda juga bisa berpartisipasi sebagai penulis di website ini.

Nama Anda
Email anda
No Telepon
Tulis Pesan Anda
Image Verification
Please enter the text from the image
[ Refresh Image ] [ What's This? ]


Share this post!

*
*
*
* Technorati
* Google
* Tweet this
* Tweet this
* Tweet this

Sulawesi Utara dan Daerah Pemekarannya

SEJARAH - SULAWESI UTARA dan hasil pemekaran Kabupaten/Kota



SULUT, gubernur, bolaang mongondow, kota tomohon, kabupaten sitaro, minahasa utara, minahasa tenggara, SULAWESI UTARA, kota kotamobagu, kota manado, bolaang mongondow utara, minahasa,

SULAWESI UTARA adalah sebuah provinsi yang dahulunya terletak di ujung nusantara,SULAWESI UTARA adalah provinsi daerah tingkat satu (DATI I). SULAWESI UTARA juga disingkat sebagai SULUT dan ada juga nama lainnya yang dikenal masyarakat ialah North Celebes.
Awal kemerdekaan Republik Indonesia..daerah ini berstatus keresidenan bagian provinsi SULAWESI. Kemudian berdasar Peraturan Pemerintah nomor 5 tahun 1960,provinsi SULAWESI dibagi menjadi dua bagian yaitu provinsi SULAWESI SELATAN-TENGGARA dan provinsi SULAWESI UTARA-TENGAH. Kepala pemerintahan ialah gabenor MR.A.A.BARAMULI di wilayah SULAWESI UTARA-TENGAH serta gabernor Latkol.F.J.TUMBELAKA di wilayah SULAWESI SELATAN-TENGGARA.

Wilayah provinsi daerah tingkat satu SULAWESI UTARA-TENGAH adalah

1.kotapraja Manado
2.kotapraja Gorontalo

Beserta delapan Daerah Tingkat Dua (DATI II) yang terdiri dari:

1.Sangihe Talaud
2.Minahasa
3.Bolaang Mongondouw
4.Gorontalo
5.Buol Toli-Toli
6.Donggala
7.Poso
8.Luwuk dan Banggai

Tanggal 23 september 1964 saat pemerintah Republik Indonesia memberlakukan Undang-Undang nomor 13 Tahun 1964 yang menetapkan perubahan status daerah tingkat satu SULAWESI UTARA-TENGAH dengan menjadikan SULAWESI UTARA sebagai daerah otonom tingkat satu dengan Manado sebagai ibukota. Sejak kala itu secara de facto daerah tingkat satu SULAWESI UTARA membentang dari utara ke selatan barat daya,dari pulau miangas ujung utara kabupaten sangihe talaud sampai molosipat dibagian barat kabupaten gorontalo.
Sampai era milenium kedua tahun 2000,wilayah administrasi provinsi SULAWESI UTARA terdiri atas 3 kotamadya:

1.Kotamadya Manado
2.Kotamadya Bitung
3.Kotamadya Gorontalo

serta 5 kabupaten:
1.Kab.Minahasa
2.Kab.Bolaang mongondouw
3.Kab.Boalemo
4.Kab.Sangihe dan Talaud
5.Kab.Gorontalo

Seiring perjalanan bangsa yang makin berkembang diperkaya nuansa reformasi dan otonomi daerah,maka dilakukan pemekaran wilayah diseantero nusantara Tak terkecuali SULAWESI UTARA. Berdasar Undang-Undang nomor 38 Tahun 2000,Gorontalo sah menjadi provinsi hasil pemekaran. Tahun 2002 sampai 2003 provinsi SULAWESI UTARA ketambahan kabupaten Talaud hasi pemekaran kabupaten sangihe talaud berdasar Undang-Undang nomor 10 Tahun 2003. Tak hanya sampai disitu..berdasar Undang-Undang nomor 33 Tahun 2003 beberapa wilayah di kabupaten minahasa telah dimekarkan.
Saat ini provinsi SULAWESI UTARA menjadi 9 wilayah administrasi kabupaten dan kota,masing-masing:

1.Kab.Bolaang Mongondow
2.Kab.Minahasa
3.Kab.Sangihe
4.Kab.Talaud
5.Kab.Minahasa Selatan
6.Kab.Minahasa Utara
7.Kota.Tomohon
8.Kota.Bitung
9.Kota.Manado

Kemudian di tahun 2007 SULAWESI UTARA ketambahan 4 wilayah administrasi kabupaten dan kota yang merupakan hasil pemekaran berdasar Undang-Undang nomor 10 Tahun 2007,antaralain:

1.Kota.Kotamobagu
2.Kab.Sitaro (siau,tagulandang,biaro)
3.Kab.Minahasa Tenggara
4.Kab.Bolaang Mongondouw Utara
5.Kab.Bolaang Mongondouw Selatan
6.Kab.Bolaang Mongondouw Timur

Sementara beberapa daerah yang sedang menunggu keputusan persetujuan untuk pemekaran adalah :

1.Kota Langowan
2.Kab.Minahasa Barat
3.Kab.Minahasa Tengah
4.Kota Tondano

SUKU-SUKU BANGSA DI INDONESIA

Suku-suku bangsa di Indonesia

ACEH
Suku Aceh di NAD : Banda Aceh, Aceh Besar
Suku Alas di NAD : Aceh Tenggara
Suku Alordi NTT : Kabupaten Alor
Suku Ambon di Maluku : Kota Ambon
Suku Ampana, Sulawesi Tengah
Suku Anak Dalam (Anak Rimbo) di Jambi
Suku Aneuk Jamee di NAD : Aceh Selatan, Aceh Barat Daya
Suku Arab-Indonesia
Suku Aru di Maluku : Kepulauan Aru
Suku Asmat di Papua

BALI
Suku Bali di Bali terdiri :
Suku Bali Majapahit di sebagian besar Pulau Bali
Suku Bali Aga di Karangasem dan Kintamani
Suku Balantak di di Sulawesi Tengah
Suku Banggai di Sulawesi Tengah : Kabupaten Banggai Kepulauan
Suku Baduy di Banten
Suku Bajau di Kalimantan Timur
Suku Bangka di Bangka Belitung
Suku Banjar di Kalimantan Selatan

BATAK
Suku Batak di Sumatera Utara terdiri :
Suku Karo Kabupaten Karo
Suku Mandailing di Mandailing Natal
Suku Angkola di Tapanuli Selatan
Suku Toba di Toba Samosir
Suku Pakpak di Pakpak Bharat
Suku Simalungun di Kabupaten Simalungun

Suku Batin di Jambi
Suku Bawean di Jawa Timur : Gresik
Suku Belitung di Bangka Belitung
Suku Bentong, Sulawesi Selatan
Suku Berau di Kalimantan Timur : Kabupaten Berau
Suku Betawi di Jakarta
Suku Bima NTB : Kota Bima

NTT
Suku Boti, Timor Tengah Selatan

SULUT
Suku Bolang Mongondow di Sulawesi Utara : Kabupaten Bolaang Mongondow
Suku Minahasa di Sulawesi Utara : Kabupaten Minahasa terdiri 9 subetnik :
Suku Babontehu
Suku Bantik
Suku Pasan Ratahan
Suku Ponosakan
Suku Tonsea
Suku Tontemboan
Suku Toulour
Suku Tonsawang
Suku Tombulu

Suku Bugis di Sulawesi Selatan
Orang Bugis Pagatan, di Kusan Hilir, Tanah Bumbu, Kalsel
Suku Bungku di Sulawesi Tengah : Kabupaten Morowali
Suku Buru di Maluku : Kabupaten Buru
Suku Buol di Sulawesi Tengah : Kabupaten Buol
Suku Buton di Sulawesi Tenggara : Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau
Suku Bonai di Riau : Kabupaten Rokan Hilir

Suku Damal di Mimika
Suku Dampeles, Sulawesi Tengah
Suku Dani, Lembah Baliem, Papua
Suku Dayak terdiri :
Suku Punan, Kalimantan Tengah
Suku Kanayatn di Kalimantan Barat
Suku Ibandi Kalimantan Barat
Suku Mualang di Kalimantan Barat : Sekadau, Sintang
Suku Bidayuh di Kalimantan Barat : Sanggau
Suku Mali di Kalimantan Barat
Suku Seberuang di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Sekujam di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Sekubang di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Ketungau di Kalimantan Barat
Suku Desa di Kalimantan Barat
Suku Kantuk di Kalimantan Barat
Suku Ot Danum atau Dohoi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
Suku Limbai di Kalimantan Barat
Suku Kebahan di Kalimantan Barat
Suku Pawan di Kalimantan Barat
Suku Tebidah di Kalimantan Barat
Suku Bakumpai di Kalimantan Selatan Barito Kuala
Orang Barangas di Kalimantan Selatan Barito Kuala
Suku Bukit di Kalimantan Selatan

KALIMANTAN/DAYAK
Orang Dayak Pitap di Awayan, Balangan, Kalsel
Suku Dayak Hulu Banyu di Kalimantan Selatan
Suku Dayak Balangan di Kalimantan Selatan
Suku Dusun Deyah di Kalimantan Selatan : Tabalong
Suku Ngaju di Kalimantan Tengah : Kabupaten Kapuas
Suku Siang Murung di Kalimantan Tengah : Murung Raya
Suku Bara Dia di Kalimantan Tengah : Barito Selatan
Suku Ot Danum di Kalimantan Tengah
Suku Lawangan di Kalimantan Tengah
Suku Dayak Bawo di Kalimantan Tengah : Barito Selatan
Suku Tunjung, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Benuaq, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Bentian, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Bukat, Kutai Barat
Suku Busang, Kutai Barat
Suku Ohong, Kutai Barat
Suku Kayan, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
Suku Bahau, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
Suku Penihing, Kutai Barat, rumpun Punan
Suku Punan, Kutai Barat, rumpun Punan
Suku Modang, Kutai Timur, rumpun Punan
Suku Basap, Bontang-Kutai Timur
Suku Ahe, Kabupaten Berau
Suku Tagol, Malinau, rumpun Murut
Suku Brusu, Malinau, rumpun Murut
Suku Kenyah, Malinau, rumpun Apo Kayan
Suku Lundayeh, Malinau
Suku Pasir di Kalimantan Timur : Kabupaten Pasir
Suku Dusun di Kalimantan Tengah
Suku Maanyan di Kalimantan Tengah : Barito Timur
Orang Maanyan Paju Sapuluh
Orang Maanyan Paju Epat
Orang Maanyan Dayu
Orang Maanyan Paku
Orang Maanyan Benua Lima Maanyan Paju Lima
Orang Dayak Warukin di Tanta, Tabalong, Kalsel
Suku Samihim, Pamukan Utara, Kotabaru, Kalsel
Suku Dompu NTB : Kabupaten Dompu
Suku Donggo, Bima
Suku Duri di Sulawesi Selatan

E
Suku Eropa-Indonesia (orang Indo atau peranakan Eropa-Indonesia)

F
Suku Flores di NTT : Flores Timur

G
Suku Gayo di NAD : Gayo Lues Aceh Tengah Bener Meriah
Suku Gorontalo di Gorontalo : Kota Gorontalo
Suku Gumai di Sumatera Selatan : Lahat
Suku Komering di Sumatera Selatan : Baturaja
Suku Semendo di Sumatera Selatan : Muara Enim
Suku Lintang di Sumatera Selatan : Lahat

I
Suku India-Indonesia

J
Suku Banten di Banten
Suku Cirebon di Jawa Barat : Kota Cirebon
Suku Jawa di Jawa Tengah, Jawa Timur
Suku Tengger di Jawa Timur
Suku Osing di Jawa Timur : Banyuwangi
Orang Samin di Jawa Tengah : Purwodadi
Suku Melayu Jambi di Jambi : Kota Jambi

K
Suku Kaili di Sulawesi Tengah : Kota Palu
Suku Kaur di Bengkulu : Kabupaten Kaur
Suku Kayu Agung di Sumatera Selatan
Suku Kerinci di Jambi : Kabupaten Kerinci
Suku Komering di Sumatera Selatan : Kabupaten Ogan Komering Ilir
Suku Konjo Pegunungan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Suku Konjo Pesisir, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan
Suku Kubu di Jambi dan Sumatera Selatan
Suku Kulawi di Sulawesi Tengah
Suku Kutai di Kalimantan Timur : Kutai Kartanegara
Suku Kluet di NAD : Aceh Selatan
Suku Krui di Lampung

L
Suku Laut, Kepulauan Riau
Suku Lampung di Lampung
Suku Lematang di Sumatera Selatan
Suku Lembak, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu
Suku Lintang, Sumatera Selatan
Suku Lom, Bangka Belitung
Suku Lore, Sulawesi Tengah
Suku Lubu, daerah perbatasan antara Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Barat
Suku Karo Sumatera Utara

M
Suku Madura di Jawa Timur
Suku Makassar di Sulawesi Selatan : Kota Makassar
Suku Mamasa (Toraja Barat) di Sulawesi Barat : Kabupaten Mamasa
Suku Mandar Sulawesi Barat : Polewali Mandar
Suku Melayu
Suku Melayu Riau di Riau
Suku Melayu Tamiang di NAD : Aceh Tamiang
Suku Mentawai di Sumatera Barat : Kabupaten Kepulauan Mentawai
Suku Minahasa di Sulawesi Utara : Kabupaten Minahasa terdiri 9 subetnik :
Suku Babontehu
Suku Bantik
Suku Pasan Ratahan
Suku Ponosakan
Suku Tonsea
Suku Tontemboan
Suku Toulour
Suku Tonsawang
Suku Tombulu
Suku Minangkabau, Sumatera Barat
Suku Mori, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah
Suku Muko-Muko di Bengkulu : Kabupaten Mukomuko
Suku Muna di Sulawesi Tenggara : Kabupaten Muna

N
Suku Nias di Sumatera Utara : Kabupaten Nias, Nias Selatan

O
Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur
Suku Ogan di Sumatera Selatan

P
Suku Papua/Irian
Suku Asmat di Kabupaten Asmat
Suku Biak di Kabupaten Biak Numfor
Suku Dani, Lembah Baliem, Papua
Suku Ekagi, daerah Paniai, Abepura, Papua
Suku Amungme di Mimika
Suku Bauzi, Mamberamo hilir, Papua utara
Suku Arfak di Manokwari
Suku Kamoro di Mimika
Suku Palembang di Sumatera Selatan : Kota Palembang
Suku Pamona di Sulawesi Tengah : Kabupaten Poso
Suku Pasemah di Sumatera Selatan
Suku Pesisi di Sumatera Utara : Tapanuli Tengah
Suku Pasir di Kalimantan Timur : Kabupaten Pasir

R
Suku Rawa, Rokan Hilir, Riau
Suku Rejang di Bengkulu : Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong
Suku Rote di NTT : Kabupaten Rote Ndao

S
Suku Saluan di Sulawesi Tengah
Suku Sambas (Melayu Sambas) di Kalimantan Barat : Kabupaten Sambas
Suku Sangir di Sulawesi Utara : Kepulauan Sangihe
Suku Sasak di NTB, Lombok
Suku Sekak Bangka
Suku Sekayu di Sumatera Selatan
Suku Semendo di Bengkulu
Suku Serawai di Bengkulu: Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Seluma
Suku Simeulue di NAD : Kabupaten Simeulue
Suku Sigulai di NAD : Kabupaten Simeulue bagian utara
Suku Sumbawa Di NTB : Kabupaten Sumbawa
Suku Sumba di NTT : Sumba Barat, Sumba Timur
Suku Sunda di Jawa Barat

T
Suku Talaud di Sulawesi Utara : Kepulauan Talaud
Suku Talang Mamak di Riau : Indragiri Hulu
Suku Tamiang di Aceh : Kabupaten Aceh Tamiang
Suku Tengger di Jawa Timur Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo lereng G. Bromo
Suku Ternate di Maluku Utara : Kota Ternate
Suku Tidore di Maluku Utara : Kota Tidore
Suku Timor di NTT, Kota Kupang
Suku Tionghoa-Indonesia
Orang Cina Parit di Pelaihari, Tanah Laut, Kalsel
Suku Tojo di Sulawesi Tengah : Kabupaten Tojo Una-Una
Suku Toraja di Sulawesi Selatan : Tana Toraja
Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara : Kendari
Suku Toli Toli di Sulawesi Tengah : Kabupaten Toli-Toli
Suku Tomini di Sulawesi Tengah : Kabupaten Parigi Moutong

U
Suku Una-una di Sulawesi Tengah : Kabupaten Tojo Una-Una

W
Suku Wolio di Sulawesi Tenggara: Buton

Burung Taon

== Taon ==

'''Deskripsi'''
Warna-warna terang pada burung enggang besar, seperti ini berkepala Julang berwarna karat, ditemukan pada kulit terbuka dan paruh.

Nama Inggris: Hornbill
Nama Indonesia: Rangkong, Julang, Kangkareng, Enggang,
Nama Minahasa : Taon
Klasifikasi Ilmiah:

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Aves

Ordo: Bucerotiformes

Family: Bucerotidae
Morfologi Umum

Burung enggang, julang, burung tahun atau kangkareng merupakan sebutan lain dari burung rangkong (Hornbill) yang kita kenal di Indonesia. Burung rangkong merupakan kelompok burung yang mudah dikenali karena memiliki ciri khas berupa paruh yang besar dengan struktur tambahan di bagian atasnya yang disebut balung (casque). Di Indonesia, ukuran tubuh rangkong berkisar antar 40 cm sampai 150 cm, dengan rangkong terberat mencapai 3.6 Kilogram. Umumnya warna bulu di dominasi oleh warna hitam untuk bagian badan dan putih bagian ekor, sedangkan warna bagian leher dan kepala cukup bervariasi. Ciri khas burung rangkong lainnya adalah suara dari kepakan sayap dan suara “calling”, contohnya untuk Rangkong Gading (Buceros vigil) mempunyai suara “calling” seperti orang tertawa terbahak-bahak dan dapat terdengar dari jarak 3 Km. Karakter unik di atas dapat dipergunakan sebagai identifikasi di lapangan untuk setiap jenis burung rangkong.

Persebaran dan Habitat

Di seluruh dunia terdapat 54 jenis burung rangkong. Burung rangkong mempunyai sebaran mulai dari daerah sub-sahara Afrika, India, Asia Tenggara, New Guinea dan Kepulauan Solomon Sebagian besar hidup di hutan hujan tropis dan hanya beberapa jenis saja yang hidup di daerah kering seperti di Afrika (Gambar 3). Indonesia merupakan rumah bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar di hutan hujan tropis, tiga diantaranya bersifat endemik. Mayoritas, rangkong banyak ditemukan di daerah hutan dataran rendah hutan perbukitan (0 – 1000 m dpl). Di daerah pegunungan (> 1000 m dpl) rangkong sudah mulai jarang ditemukan. Pulau Sumatera menempati jumlah terbanyak dengan 9 jenis, di susul dengan Kalimantan dengan 8 jenis. Dengan banyaknya jenis burung rangkong di Indonesia menjadikan daerah penting untuk konservasi burung rangkong di dunia.
Perilaku Makan

Burung rangkong yang hidup di hutan hujan tropis umumnya bersifat frugivorous. Buah beringin (Ficus spp) yang berbuah sepanjang tahun di hutan tropis Indonesia merupakan makanan yang sangat penting bagi burung rangkong (Kemp 1995, Hadiprakarsa, 2001). Selain buah beringin, jenis buah-buahan lainnya juga di konsumsi oleh burung rangkong seperti buah pala hutan (Myristicaceae) yang kaya akan protein dan lipid, kenari-kenarian (Burseraceae). Selain makanan berupa buah-buahan, burung rangkong juga memakan invertebrata dan vertebrata kecil. Selain untuk memenuhi kebutuhannya seperti saat perkembangbiakan, makanan berupa invertebrata dan vertebatra kecil juga di konsumsi sebagai makanan pengganti di saat ketersediaan buah mulai menipis. Di dukung oleh postur tubuh yang memungkinkan burung rangkong terbang cukup jauh (200-1200 m/jam,) dan kapasitas perut yang cukup besar, burung rangkong dapat memencarkan biji hampir di seluruh bagian hutan tropis sehingga dapat menjaga dinamika hutan.
Reproduksi

Sebagian besar burung rangkong Indonesia hidup secara berpasangan (monogamous), hanya 3 jenis yang hidup secara berkelompok. Selama masa perkembangbiakan semua jenis burung rangkong yang hidup di hutan tropis bersarang di pohon berlubang yang terbentuk secara alami. Berdasarkan hasil penelitian pohon berlubang yang tersedia di alam mempunyai diameter pohon lebih besar dari 45 cm. Pada saat bersarang rangkong betina akan masuk kedalam lubang yang kemudian ditutup oleh lumpur dan kotorannya—hanya menyisakan sedikit celah untuk mengambil makanan dari rangkong jantan atau anggota kelompoknya dengan menggunakan paruh. Setiap jenis burung rangkong mempunyai daur perkembangbiakan yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, musim hujan dan pohon berlubang di dalam habitatnya. (Kemp, 1995). Setelah bersarang, selama 4-6 hari rangkong betina akan mengeluarkan telur yang berjumlah antara dua (untuk rangkong berukuran besar) sampai delapan butir telur (untuk rangkong berukuran kecil). Setelah telur menetas rangkong betina akan mengerami telurnya (inkubasi) mulai dari 23 sampai 42 hari tergantung dari jenisnya.
Konservasi

Seluruh jenis rangkong di Indonesia di lindungi oleh pemerintah yang di tuangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Berdasarkan IUCN, 5 jenis rangkong Indonesia berstatus terancam dan satu jenis bersifat mendekati kepunahan (Tabel 1). Ancaman utama burung rangkong adalah hilangnya kawasan hutan dimana mereka tinggal. Selain tekanan terhadap habitatnya, burung rangkong juga mendapatkan ancaman lainnya seperti perburuan liar untuk diperdagangkan sebagai binatang peliharaan, dan sebagai hiasan rumah. Bahkan balung dari Rangkong gading (Buceros vigil) telah di export ke China di jaman dinasti Ming sebagai symbol keburuntungan. Di Indonesia ancaman berupa perburuan tidak banyak diketahui jumlahnya, tapi di yakini burung ini merupakan salah satu target perburuan untuk konsumsi maupun peliharaan.

Rangkong merupakan burung yang memiliki keunikan tersendiri, berukuran besar, corak warna kepala yang mencolok, perilaku sarang yang khas dan tugasnya untuk memperbaiki hutan. Indonesia merupakan rumah bagi 13 jenis rangkong, tiga diantaranya bersifat endemik. Semua jenis rangkong Indonesia di lindungi oleh pemerintah Indonesia.

Daftar jenis burung rangkong di Indonesia
---------------------------------

1. Enggang Jambul, Nama ilimah: Berenicornis comatus (Raffles, 1822)
2. Enggang Klihingan, Anorrhinus galeritus (Temminck, 1831)
3. Kangkareng Sulawesi, Penelopides exarhatus (Temminck, 1823)
4. Julang Jambul-hitam, Aceros corrugatus (Temminck, 1832)
5. Julang Sulawesi, Aceros cassidix (Temminck, 1823)
6. Julang Emas, Rhyticeros undulatus (Shaw, 1811)
7. Julang Papua, Rhyticeros plicatus (J.R. Forster, 1781)
8. Julang Sumba, Rhyticeros everetti (Rothschild, 1897)
9. Kangkareng Perut-putih, Anthracoceros malayanus (Raffles, 1822)
10. Kangkareng Hitam, Anthracoceros albirostris (Shaw, 1807)
11. Enggang Cula, Buceros rhinoceros (Linnaeus, 1758)
12. Enggang Papan, Buceros bicornis (Linnaeus, 1758)
13. Rangkong Gading, Rhinoplax vigil (J.R. Forster, 1781)
---------------------------------





Burung enggang menunjukkan variasi dalam ukuran sebagai sebuah keluarga, mulai dari ukuran Black Dwarf Julang (Tockus hartlaubi), pada 102 gram (3,6 oz) dan 30 cm (1 kaki), dengan burung enggang Ground Selatan-Bucorvus (leadbeateri), di mencapai 6,2 kg (13,6 lbs) dan 1,2 m (4 kaki) [3]. Laki-laki selalu lebih besar dari pada perempuan, meskipun sejauh mana hal ini benar bervariasi tergantung pada spesies. Besarnya dimorfisme seksual juga bervariasi dengan bagian tubuh, misalnya perbedaan massa tubuh antara pria dan wanita adalah antara 1-17%, tetapi variasi adalah 80-30% untuk tagihan panjang dan 1-21% panjang sayap. [ 3]

Fitur yang paling menonjol dari burung enggang adalah tagihan berat, didukung oleh otot-otot leher yang kuat serta oleh tulang menyatu. [3] tagihan besar membantu dalam pertempuran, bersolek, dan membangun sarang, serta menangkap mangsa. Sebuah fitur unik pada burung enggang adalah pelindung kepala, struktur berongga yang berjalan sepanjang atas rahang bawah. Dalam beberapa spesies itu hampir tidak jelas dan muncul untuk melayani fungsi tidak melampaui memperkuat tagihan. Dalam spesies lain, cukup besar, diperkuat dengan tulang, dan memiliki bukaan antara pusat berongga memungkinkan berfungsi sebagai resonator untuk panggilan. [1] Di Julang helm pelindung kepala tidak kosong, tetapi diisi dengan gading dan digunakan sebagai alat pemukul dinding yang digunakan di udara jousts dramatis [4] Aerial menyeruduk pelindung kepala-juga telah dilaporkan dalam Julang Besar.. [5] [6]

The bulu dari burung enggang biasanya hitam, abu-abu, putih, atau coklat, walaupun biasanya diimbangi dengan warna-warna cerah pada tagihan, atau bercak kulit berwarna telanjang pada wajah atau Wattles. Beberapa spesies pameran dichromatism seksual; di enggang-Ground Abyssinian, misalnya, kulit biru murni pada wajah dan leher menunjukkan seorang perempuan dewasa, dan merah dan kulit biru menunjukkan seorang laki-laki dewasa. Panggilan dari burung enggang yang keras, dan bervariasi jelas antara spesies yang berbeda. [1]

Burung enggang memiliki visi teropong, meskipun tidak seperti kebanyakan burung dengan jenis tagihan visi terasa menganggu di lapangan visual mereka. [7] Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat tagihan mereka sendiri tip dan bantuan dalam menangani presisi objek makanan dengan tagihan mereka. Mata juga dilindungi oleh bulu mata besar yang bertindak sebagai sebuah kerai.

Perilaku

Burung enggang adalah diurnal, umumnya perjalanan berpasangan atau kelompok keluarga yang kecil. Ternak yang lebih besar kadang-kadang formulir di musim non-bibit. The kumpulan terbesar bentuk burung enggang bersarang di beberapa situs, di mana sebanyak 2.400 individu burung dapat ditemukan.

Diet
Wanita Rangkong Papan makan pada buah ara. Buah membentuk sebagian besar dari makanan dari burung enggang hutan

Burung enggang adalah omnivora, makan buah, serangga dan binatang kecil. Mereka tidak bisa menelan makanan tertangkap di ujung paruh sebagai bahasa mereka terlalu pendek untuk memanipulasi itu, sehingga mereka melemparkannya kembali ke tenggorokan dengan sentakan kepala. Sementara kedua negara terbuka dan spesies hutan omnivora, spesies yang mengkhususkan diri dalam makan pada buah umumnya ditemukan di hutan sedangkan spesies yang lebih karnivora ditemukan di daerah terbuka [3] Hutan. Hidup spesies burung enggang dianggap penyebar biji penting. [ 8]

Dalam beberapa kasus burung enggang tetap mempertahankan wilayah [1] teritorialitas. Berhubungan dengan diet, sumber buah sering tambal-sulam didistribusikan dan memerlukan spesies perjalanan jarak jauh dalam rangka mencari, sehingga yang mengkhususkan diri dalam buah kurang teritorial.

Pembiakan
Pria enggang ara transfer ke betina. [9]

Burung enggang umumnya membentuk pasangan monogami, meskipun beberapa spesies melakukan penangkaran kooperatif. betina meletakkan sampai enam telur putih dalam lubang atau celah yang ada, baik di pohon atau batu. Rongga biasanya alam, namun beberapa spesies dapat bersarang di sarang burung pelatuk ditinggalkan dan takur. Nesting situs dapat digunakan dalam pemuliaan musim berturut-turut oleh pasangan yang sama. Sebelum inkubasi, betina semua Bucerotinae-kadang dibantu oleh laki-laki mulai menutup pintu masuk ke rongga sarang dengan dinding terbuat dari lumpur, kotoran dan bubur buah. Ketika betina siap untuk bertelur, pintu masuk hanya cukup besar untuk itu untuk masuk sarang, dan setelah ia melakukannya, pembukaan sisa juga semua tapi tertutup rapat. Hanya ada satu lubang sempit, cukup besar untuk laki-laki untuk mentransfer makanan untuk ibu dan akhirnya anak ayam. Fungsi dari perilaku ini tampaknya terkait untuk melindungi situs bersarang dari burung enggang saingan [10] Meterai dapat dilakukan hanya dalam beberapa jam,. Paling dibutuhkan beberapa hari. Setelah disegel sarang itu membutuhkan lima hari untuk lebih lanjut telur pertama diletakkan. ukuran Kopling bervariasi dari satu atau dua telur dalam spesies yang lebih besar untuk sampai delapan telur untuk spesies yang lebih kecil. Selama periode inkubasi wanita mengalami meranggas lengkap dan simultan. Ia telah mengemukakan bahwa kegelapan rongga memicu hormon yang terlibat dalam molting [11] betina Non-penangkaran dan laki-laki. Pergi melalui meranggas sekuensial. [12] Ketika anak ayam dan perempuan yang terlalu besar untuk muat dalam sarang, ibu pecah, maka kedua orang tua memberi makan anak ayam. [1] Pada beberapa spesies ibu membangun kembali dinding, sedangkan di lain anak-anak ayam sendiri membangun kembali dinding tanpa bantuan. Tanah-burung enggang yang konvensional rongga-nesters sebagai gantinya. [1]
dengan spesies lain

Sejumlah burung enggang memiliki hubungan dengan spesies hewan lainnya. Misalnya burung enggang di Afrika memiliki hubungan mutualistik dengan kerdil Mongooses, di mana mereka mencari makanan bersama-sama dan memperingatkan satu sama lain di dekatnya burung pemangsa dan predator lainnya. [13] hubungan lainnya komensal, untuk contoh berikut monyet atau binatang lain dan makan serangga memerah oleh mereka. [14]


Spesies dalam daftar Taksonomi
India Grey Julang Ocyceros birostris di India.
Red-tagihan enggang
Tockus erythrorhychus
Palawan Julang Anthracoceros marchei di Filipina.
Southern Ground-burung enggang (wanita karena tenggorokan kebiruan) tentang menelan belalang
Rangkong Papan
Enggang Gading

Ini adalah daftar spesies burung enggang, disajikan dalam Taksonomi.

Subfamily Bucerotinae

* Genus Tropicranus (kadang-kadang termasuk dalam Tockus)
o Julang Jambul-putih Tropicranus albocristatus

* Genus Tockus
o Black Dwarf Julang Tockus hartlaubi
o ditagih Red-Dwarf Julang camurus Tockus
o Monteiro's Julang Tockus monteiri
o Merah-ditagih Julang Tockus erythrorhynchus
o Timur Kuning-ditagih Julang Tockus flavirostris
o Selatan Kuning-ditagih Julang Tockus leucomelas
o Jackson Julang jacksoni Tockus
o Von der Decken's Julang Tockus deckeni
o dimahkotai Julang Tockus alboterminatus
o Bradfield's Julang Tockus bradfieldi
o Afrika Pied Julang Tockus fasciatus
o Hemprich's Julang Tockus hemprichii
o Afrika Grey Julang Tockus nasutus

* Genus Ocyceros
o Malabar Grey Julang Ocyceros griseus
o Ceylon Grey Julang Ocyceros gingalensis
o India Grey-Julang Ocyceros biostris

* Genus Anthracoceros
o Malabar Pied Julang Anthracoceros coronatus
o Oriental Pied Julang Anthracoceros albirostris
o Black Julang Anthracoceros malayanus
o Palawan Julang Antracoceros marchei
o Sulu Julang Anthracoceros montani

* Genus Buceros
o Enggang Buceros badak
o Rangkong Papan Buceros bicornis
o berwarna karat Julang Buceros hydrocorax

* Genus Rhinoplax (kadang-kadang termasuk dalam Buceros)
o Enggang Gading Rhinoplax berjaga

* Genus Anorrhinus
o Austen's Brown Julang, Anorrhinus austeni
o Tickell Brown Julang, Anorrhinus tickelli
o Bushy Julang Jambul-Anorrhinus galeritus

* Genus Penelopides
o Luzon Julang Penelopides manillae
o Mindoro Julang Penelopides mindorensis
o Visayan Julang Penelopides panini
o Samar Julang Penelopides samarensis
o Mindanao Julang Penelopides affinis
Julang Sulawesi o Penelopides exarhatus

* Genus Berenicornis (kadang-kadang termasuk dalam Aceros)
o White-crowned Julang Berenicornis comatus

* Genus Aceros
o berleher berwarna karat Julang Aceros nipalensis
o keriput Julang Aceros corrugatus
o menggeliat Julang Aceros leucocephalus
o kepala berwarna karat Julang Aceros waldeni
o Knobbed Aceros cassidix Julang

* Genus Rhyticeros (kadang-kadang termasuk dalam Aceros)
o dilingkari Rhyticeros undulatus Julang
o Narcondam Julang Rhyticeros narcondami
o Rhyticeros everetti Julang Sumba
o-bersaku polos Julang Rhyticeros subruficollis
o Rhyticeros plicatus Papua Julang

* Genus Bycanistes (kadang-kadang termasuk dalam Ceratogymna).
o terompet Julang Bycanistes bucinator
o Pipa Julang Bycanistes fistulator
o keperakan-pipinya Julang Bycanistes brevis
o Hitam-putih-casqued Julang Bycanistes subcylindricus
o Brown-pipinya Julang Bycanistes cylindricus
o White-thighed Julang Bycanistes Eurytoma

* Genus Ceratogymna
o Hitam-casqued Julang Ceratogymna atrata
o Kuning-casqued Julang Ceratogymna elata

Subfamily Bucorvinae

* Genus Bucorvus
o Abyssinian Ground-Julang Bucorvus abyssinicus
o Southern Ground-Julang Bucorvus leadbeateri

[Sunting] Budaya signifikansi

casques Kebanyakan spesies adalah sangat ringan, mengandung banyak wilayah udara. Namun, Julang helm memiliki pelindung kepala solid terbuat dari bahan yang disebut burung enggang gading, yang sangat berharga sebagai bahan ukiran di Cina dan Jepang. Hal ini sering digunakan sebagai media untuk seni netsuke.
[Sunting] Terancam Punah enggang

* Narcondam Julang





Oriental Pied Julang: Pacaran di Changi

"Oriental Pied burung enggang (Anthracoceros albirostris) (atas), Tanimbar Corellas (Cacatua goffini) dan Parkit dada merah (Psittacula alexandri) membuat berkotek keras dan melengking suara membuatku meninggalkan figging saya di Turnhouse Road di Changi minggu lalu. "Burung-burung semua tampaknya memiliki saham di dua pohon Heritage (atas); parkit terbang dan lalu keluar. Akhirnya corellas diselesaikan untuk rongga yang lebih kecil di malayana Gluta sedangkan burung enggang besar mengklaim lebih besar berlubang di pohon gibbosa Shorea. "The enggang laki-laki menunggu di luar sementara perempuan menghilang ke dalam rongga Shorea (atas, kiri). Setelah beberapa saat ia terbang dan membawa pulang buah merah, bol mungkin jumbu (Jambu bol) yang ia memberi makan kepada wanita ketika ia mengintip dari lubang-pohon (di atas, kanan). Harus cukup luas di sana karena laki-laki harus mencelupkan kanan kepalanya ke cekungan sebelum dia muncul kembali. Mereka terbang setelah beberapa saat. Satu jam kemudian mereka kembali lagi untuk kunjungan singkat.

"Aku bertanya-tanya apakah kegiatan ini di lembah dari Shorea akan merugikan pohon. Meskipun hanya ada beberapa cabang pendek tinggi di atas sana, gumpalan daun muda tumbuh segar di ujungnya. The Gluta tampaknya tarif lebih baik dengan lebih dedaunan.

"Apakah pacaran itu berakhir? Dan kemudian akan perempuan akan disegel dalam? "